Bicara Tan Malaka, harus satu paket dengan mengulas Madilog.
Madilog merupakan salah satu karya Tan Malaka yang dinilai fenomenal. Tan Malaka menulis Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog) dalam situasi yang tak mudah.
Tan Malaka menulis Madilog sejak tinggal di Rawajati di
dekat pabrik sepatu di Kalibata, Cililitan Jakarta Timur.
Madilog mulai ditulis pada 15 Juli 1942 hingga 30 Maret
1943. Butuh waktu 720 jam bagi Tan Malaka untuk menyelesaikan penulisan
Madilog. Secara khusus, Tan Malaka menulis naskah buku ini tiga jam per hari.
Saat sedang giat-giatnya menulis Madilog, tentara Jepang
yang saat itu sudah menjajah Indonesia terus memburu Tan Malaka. Beruntung,
karena tulisan teks buku ini berukuran kecil, naskah Madilog luput dari penglihatan
tentara Jepang.
Tan Malaka sempat berhenti menulis Madilog selama 15 hari. Karena
merasa tidak aman lagi tinggal di Rawajati, Tan Malaka berpindah tempat
tinggal. Pria keturunan Minang ini membawa naskah Madilog saat mengembara ke
Tambang Bara, Bayah, Banten.
Di Bayah Banten, Tan Malaka bekerja sebagai romusha dengan
posisi yang sedikit lebih tinggi. Tugasnya mengurusi makanan dan kesehatan
romusha dan penduduk Bayah. Termasuk mengurus romusha yang sakit dan meninggal
dunia melalui Kantor Urusan Prajurit Pekerja.
Selama di Bayah Banten, Tan Malaka sempat menjabat sebagai Ketua
Badan Pembantu Pembelaan (BPP) dan Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3). Dengan posisinya itu, Tan Malaka dipilih menjadi
wakil daerah Banten ke Kongres Angkatan Muda yang akan digelar pada Juni 1945
di Jakarta. Namun kongres tersebut batal.
Selaku aktivis pergerakan Persatuan Perjuangan, Tan berjumpa
dengan aktivis lain seperti Sukarni, Chairul Saleh, serta jurnalis asal Banten
seperti Bang Bejat atau Anwar Tjokroaminoto. Penting diingat, selama mengembara untuk melepaskan diri
dari incara tentara Kempei Jepang, Tan Malaka mengenalkan namanya dengan Iljas
Hussein.
Akhirnya, pada Maret 1943, Tan Malaka berhasil menuntaskan
penulisan naskah buku Madilog. Tiga tahun setelahnya yakni pada Maret 1946, buku
ini baru dikenalkan kepada khalayak ramai.
Ditulis berdasarkan paparan Sejarah Madilog pada buku berjudul Madilog karya Tan Malaka.
Baca juga Fakta Masa Lalu Kota Semarang
Baca juga Fakta Masa Lalu Kota Semarang
Komentar
Posting Komentar