Langsung ke konten utama

Telepon Genggam dan Kita


Pernahkah Anda mencoba lepas sehari saja dengan telepon genggam Anda? Jika Anda pernah mencobanya, tentu sangat mudah bagi Anda untuk menjawab pertanyaan saya tadi. Di tengah kesibukan yang makin “menggila” telepon genggam sudah menjadi barang wajib bagi sebagian besar masyarakat. 

Sengaja saya beri tanda kutip kata “menggila” tadi untuk menegaskan bahwa banyak orang yang kini tergila-gila memakai telepon genggam. Saking gilanya, mereka tidak bisa lepas barang sejenak dari benda yang satu itu. Itu artinya komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Membeli telepon genggam dan membeli pulsa sudah menjadi rutinitas yang menghiasi keseharian kita. 

Kenyataan tentang pentingnya telepon genggam ini menyadarkan saya bahwa seseorang bakal merasa tidak lengkap jika telepon genggamnya tidak bisa berfungsi. Inilah yang saya alami saat berada di Hotel Mambrouk Anyer Banten, Selasa 29 Juli 2008 lalu. Acara liburan mendadak itu menjadikan saya tidak bisa membawa tiga buah charger untuk ketiga telepon genggam saya. Celakanya, kondisi baterai semua telepon genggam saya sudah habis. Alhasil, sesampainya di hotel saya hanya bisa menikmati sepi. Akhirnya, imajinasi saya untuk bisa lepas dari telepon genggam terlaksana tanpa sengaja. Selama beberapa jam saya harus merelakan diri menjadi inconnected person. Orang yang tidak bisa dihubungi atawa dikontak. Ah, sebuah pengalaman menyenangkan sekaligus bisa membuat orang-orang yang mencoba menghubungi saya menjadi jengkel.  

Saya beruntung, karena ada teman baik yang rela meminjamkan telepon genggamnya untuk bisa saya pakai. Satu nomor saya, akhirnya bisa kembali aktif. Sementara dua nomor lainnya harus non aktif dulu. Saya merasakan betul ada yang kurang lengkap saat ketiga telepon genggam saya mati. Ini menandakan, tingkat ketergantungan saya terhadap telepon genggam begitu tinggi.  

Saya yakin, Anda juga memiliki tingkat ketergantungan yang begitu tinggi terhadap telepon genggam. Itu hal yang sangat wajar. Sebab, ada banyak hal yang bisa Anda lakukan dengan sebuah telepon genggam. Di situ, ada banyak nomor-nomor relasi, jadwal kegiatan, hingga mungkin rahasia-rahasia pribadi Anda yang terselip di antara sekian banyak inbox SMS maupun outbox-nya. Telepon genggam, terbukti telah menjadi bagian penting bagi kehidupan banyak orang. 

Selasa, 29 Juli 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salon Kecantikan Terbaik untuk Perempuan: Layanan Gunting, Cuci Rambut, dan Lebih Banyak Lagi

Perempuan berhak merawat rambutnya agar tampil cantik Dalam dunia yang semakin sibuk ini, setiap perempuan berhak untuk merasa cantik dan percaya diri. Salah satu cara untuk mencapai itu adalah dengan merawat rambut di salon kecantikan yang profesional. Di salon kami, kami menawarkan berbagai layanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kecantikan perempuan, termasuk gunting, cuci rambut, blow, coloring, smoothing, dan hair mask. Layanan Unggulan Kami 1. Gunting Rambut Gunting rambut adalah langkah pertama untuk mendapatkan penampilan yang segar. Tim stylist kami yang berpengalaman siap membantu Anda menemukan gaya rambut yang paling sesuai dengan bentuk wajah dan kepribadian Anda. 2. Cuci Rambut Setelah gunting, cuci rambut adalah langkah penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan rambut. Kami menggunakan produk berkualitas tinggi yang dapat memberikan kelembapan dan nutrisi yang dibutuhkan oleh rambut Anda. 3. Blow Layanan blow kami akan memberikan sentuhan akhir yang s...

Fakta Seputar Perang Korea

Semenanjung Korea akhirnya merdeka. Hari itu tanggal 3 Oktober 1945, bangsa Korea menghirup kemerdekaan, setelah dijajah oleh negeri matahari terbit; Jepang. Begitulah, sejarah baru bangsa Korea terbentang dan bergulir. Rasa haru kemerdekaan itu agaknya hanya berumur sesaat. Semenanjung damai yang dulunya bersatu, kembali terkoyak. Tiba-tiba Korea Utara menyerang Seoul dengan tujuan yang jelas; menginvasi Korea Selatan. Tragedi kemanusiaan bertajuk Perang Korea atau yang dikenal pula dengan Korean War digelar. Luka bangsa Korea semasa penjajahan Jepang belumlah usai. Berikutnya, pada tanggal 25 Juni 1950, luka bangsa itu disayatkan lagi oleh saudara sebangsa. Perang, di belahan bumi manapun berlangsung, senantiasa menorehkan luka yang teramat dalam bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dalam realitanya, perang merupakan pilihan akhir yang dilematis yang harus dijalani oleh suatu bangsa, setelah upaya lain terhenti. Tak peduli apapun bentuk perang tersebut dan alasan y...