Langsung ke konten utama

Fakta Lucunya Diplomasi Madura Menurut Emha



Sikap unik orang Madura kerap menjadi inspirasi bagi budayawan Emha Ainun Nadjib. Di sela-sela sambutannya, Emha kerap menyuguhkan cerita lucu seputar orang Madura. Di masa depan, kata Emha, Indonesia butuh diplomasi ala Madura.

Diplomasi ala Madura ini dipaparkan Emha saat didaulat menjadi pembicara dalam peluncuran buku biografi (mantan) Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Buku berjudul Biografi Mahfud MD Terus Mengalir itu diluncurkan di kantor MK Jakarta, Senin 4 Maret 2013.

Emha dengan gayanya yang lugas namun tetap tenang langsung menyedot tawa hadirin yang hadir. Emha secara khusus mengumbar humor seputar orang Madura. Ini tak lain dikarenakan sosok Mahfud MD yang memang berasal dari pulau penghasil garam di Jawa Timur. Lantas, Emha mulai mengulas sosok Mahfud MD dari namanya. “Pak Mahfud ini dekat dengan Tuhan. Namanya saja Mahfud. Dan Tuhan punya buku nasib namanya lauhul mahfudz,” paparnya. Tawa hadirin mulai berderai.

Dalam bahasa Arab, mahfud mengandung arti yang dijaga. “Jadi, nggak usah mendorong-dorong Pak Mahfud jadi presiden. Biarkan saja di jalan Allah. Pasti sudah dijaga. Kalau nanti Pak Mahfud nggak jadi presiden, pasti dia akan begini,” ujar Emha sambil memeragakan orang yang berkacak pinggang dan mendongakkan kepalanya ke langit.




Bagi orang Madura, mendongakkan kepala ke atas dan menatap langit merupakan tanda protes kepada Tuhan. “Kalau sudah begitu, Tuhan berpikir. Wah, kalau orang Madura marah bisa gawat. Hanya orang seperti Pak Mahfud yang bisa begitu,” kelakar Emha yang langsung disambut tawa terpingkal-pingkal.

Humor seputar sikap unik orang Madura mulai ditebar Emha. Diceritakannya, ada seorang nelayan asal Madura yang tidak mendapat ikan seekor pun saat melaut. Padahal hari sudah menjelang senja. Nelayan ini merasa heran dan lalu mendongakkan kepalanya ke langit. “Katanya, Allah itu Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Tapi mana? Kok sampai sore nggak dikasih ikan?” keluh si nelayan sebagaimana ditirukan Emha.

Atas kemurahan-Nya, tetiba ada lima ekor ikan melompat ke perahunya. Si nelayan Madura ini rupanya masih protes. Lima ekor ikan hanya cukup untuk makan dia, istrinya, berikut tiga orang anaknya. “Mbok ditambah yang Allah, masak cuma lima,” protesnya.

Ajaib, beberapa ikan berlompatan ke perahunya. Setelah lumayan penuh, barulah si nelayan ini mendarat. Dari jauh dia melihat ada kebakaran di desanya. Api membumbung tinggi dari sebuah rumah. 

“Cak itu rumah siapa yang terbakar?” tanya si nelayan kepada orang di pantai.

“Itu rumah sampeyan cak,” jawab si orang tersebut yang tak lain adalah tetangganya.

“Nah, nelayan Madura ini bukannya malah berlari untuk menolong. Tapi dia malah berkacak pinggang dan melihat ke langit dan bilang begini. Ya Allah, mengapa juga masalah di laut Engkau bawa-bawa ke daratan,” urai Emha. Kembali tawa memenuhi ruangan.

Bertolak dari leluconnya itulah, Emha mengingatkan, kekakuan politik yang terjadi saat ini hanya bisa diterobos oleh orang-orang Madura seperti Mahfud MD. Tanpa melalui jenjang sekolah formal, menurut Emha, orang-orang Madura sudah terlatih untuk berdiplomasi. Ini dikarenakan, kata yang keluar dari mulut orang Madura belum tentu bisa dijamin kebenarannya seperti yang diucapkan. Pernyataan Emha ini lagi-lagi menggelitik saraf tawa hadirin di ruangan.

“Jadi diplomasi masa depan adalah diplomasi orang Madura. Bagaimana caranya agar kita (bangsa Indonesia) bisa tidak manut (baca: menurut) kepada IMF, Bank Dunia, atau negara adi kuasa tanpa menyakiti mereka, hanya orang Madura yang bisa melakukannya,” tegas budayawan asal Jombang Jawa Timur ini.

Kembali Emha menyodorkan guyonannya seputar aksi orang Madura yang masuk ke Senayan secara gratis dan menonton pertandingan bola antara Indonesia melawan Malaysia. Sebelum menonton, orang Madura ini memotong rambutnya dengan gaya cepak tak ubahnya tentara. Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, si orang Madura hanya berujar, “Anggota.” Beberapa polisi curiga. Lantas polisi meminta bantuan personel TNI untuk menyelidiki si orang Madura yang mengaku sebagai “anggota” ini. Seorang anggota intel TNI lantas mendekati si orang Madura.

“Halo ndan (maksudnya komandan),” sapa si intel. 

“Lho nama saya bukan Hamdan,” sahut si orang Madura. 

“Lho bapak anggota kan?” selidik si intel.

“Iya, saya anggota,” timpal si orang Madura.

“Lho satuannya apa?” kembali si intel bertanya.

“KUD saya!” tukas si orang Madura.

“Itu lho hebatnya orang Madura, cukup jadi anggota koperasi unit desa atau KUD bisa masuk Senayan gratis hanya dengan memberi sikap hormat dan menyebut kata anggota. Hanya orang Madura yang bisa seperti ini,” jelas Emha.

Di mata Emha, sosok Mahfud MD tak hanya bisa disebut sebagai ahli hukum atau ahli konstitusi. Untuk menjadi seorang ahli hukum, lanjut Emha, seseorang cukup belajar hukum, ilmu pendukungnya, berikut filosofi hukum. Bagi Emha, sosok Mahfud MD lebih tepat disebut sebagai ahli keadilan.

Menurutnya, kata ahli berasal dari bahasa Arab yakni ahlun yang berarti tuan rumah. Jadi, ahli keadilan bisa diartikan sebagai tuan rumah keadilan. “Supremasi hukum itu yang memikirkan adalah para pakar hukum. Adapun yang dipikirkan Mahfud MD adalah supremasi keadilan. Orang yang ahli keadilan itu hidupnya adil, hatinya adil, pikirannya adil, sama istrinya adil, dan sama rakyat juga adil,” papar Emha yang disambut tepuk tangan.

Guyonan Emha perihal sikap unik orang Madura bukan hal baru. Di beberapa kegiatan seni budayanya bersama Kyai Kanjeng, Emha selalu menyelipkan kisah orang Madura. Pernah dipaparkannya kisah nelayan Madura yang ditangkap polisi Malaysia yang melanggar batas perairan negara tetangga itu. Singkat cerita, nelayan asal Madura ini ditangkap dan diinterogasi. Terjadilah percakapan sebagai berikut.

“Bapak ini melanggar batas perairan wilayah Malaysia!” gertak polisi Malaysia.

“Sampeyan ini gimana? Kok saya dikatakan melanggar. Saya kan cuma mencari ikan,” jawab si nelayan Madura tak mau kalah.

“Lho, bapak masuk wilayah perairan Malaysia tanpa izin!” sergah si polisi Malaysia.

“Pak, saya ini mencari ikan dari Indonesia. Lha ikannya lari sampai Malaysia. Ya saya kejar!” jawab si nelayan Madura lugas. Polisi Malaysia akhirnya tak bisa berkata-kata.

Salam tawa, dan berbanggalah Indonesia punya Madura.

Wildan Hakim, mantan reporter KBR 68H Jakarta. Lulusan dari S2 Manajemen Komunikasi UI. Kini bekerja sebagai konsultan komunikasi untuk PNPM Mandiri Perkotaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salon Kecantikan Terbaik untuk Perempuan: Layanan Gunting, Cuci Rambut, dan Lebih Banyak Lagi

Perempuan berhak merawat rambutnya agar tampil cantik Dalam dunia yang semakin sibuk ini, setiap perempuan berhak untuk merasa cantik dan percaya diri. Salah satu cara untuk mencapai itu adalah dengan merawat rambut di salon kecantikan yang profesional. Di salon kami, kami menawarkan berbagai layanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kecantikan perempuan, termasuk gunting, cuci rambut, blow, coloring, smoothing, dan hair mask. Layanan Unggulan Kami 1. Gunting Rambut Gunting rambut adalah langkah pertama untuk mendapatkan penampilan yang segar. Tim stylist kami yang berpengalaman siap membantu Anda menemukan gaya rambut yang paling sesuai dengan bentuk wajah dan kepribadian Anda. 2. Cuci Rambut Setelah gunting, cuci rambut adalah langkah penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan rambut. Kami menggunakan produk berkualitas tinggi yang dapat memberikan kelembapan dan nutrisi yang dibutuhkan oleh rambut Anda. 3. Blow Layanan blow kami akan memberikan sentuhan akhir yang s...

Fakta Seputar Perang Korea

Semenanjung Korea akhirnya merdeka. Hari itu tanggal 3 Oktober 1945, bangsa Korea menghirup kemerdekaan, setelah dijajah oleh negeri matahari terbit; Jepang. Begitulah, sejarah baru bangsa Korea terbentang dan bergulir. Rasa haru kemerdekaan itu agaknya hanya berumur sesaat. Semenanjung damai yang dulunya bersatu, kembali terkoyak. Tiba-tiba Korea Utara menyerang Seoul dengan tujuan yang jelas; menginvasi Korea Selatan. Tragedi kemanusiaan bertajuk Perang Korea atau yang dikenal pula dengan Korean War digelar. Luka bangsa Korea semasa penjajahan Jepang belumlah usai. Berikutnya, pada tanggal 25 Juni 1950, luka bangsa itu disayatkan lagi oleh saudara sebangsa. Perang, di belahan bumi manapun berlangsung, senantiasa menorehkan luka yang teramat dalam bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dalam realitanya, perang merupakan pilihan akhir yang dilematis yang harus dijalani oleh suatu bangsa, setelah upaya lain terhenti. Tak peduli apapun bentuk perang tersebut dan alasan y...

Telepon Genggam dan Kita

Pernahkah Anda mencoba lepas sehari saja dengan telepon genggam Anda? Jika Anda pernah mencobanya, tentu sangat mudah bagi Anda untuk menjawab pertanyaan saya tadi. Di tengah kesibukan yang makin “menggila” telepon genggam sudah menjadi barang wajib bagi sebagian besar masyarakat.  Sengaja saya beri tanda kutip kata “menggila” tadi untuk menegaskan bahwa banyak orang yang kini tergila-gila memakai telepon genggam. Saking gilanya, mereka tidak bisa lepas barang sejenak dari benda yang satu itu. Itu artinya komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Membeli telepon genggam dan membeli pulsa sudah menjadi rutinitas yang menghiasi keseharian kita.  Kenyataan tentang pentingnya telepon genggam ini menyadarkan saya bahwa seseorang bakal merasa tidak lengkap jika telepon genggamnya tidak bisa berfungsi. Inilah yang saya alami saat berada di Hotel Mambrouk Anyer Banten, Selasa 29 Juli 2008 lalu. Acara liburan mendadak itu menjadikan saya tidak bisa membawa tiga buah charger untu...