Langsung ke konten utama

Dari Natal Hingga Idul Fitri


Natal dan Idul Fitri tentu punya makna yang mendalam bagi dua umat beragama terbesar di Indonesia. Secara kebetulan selama beberapa tahun terakhir, dua hari raya ini diperingati pada waktu yang berdekatan. Tak heran, jika pemerintah memberi perhatian yang cukup besar bagi peringatan dua hari di atas. Mengingat perayaannya yang bersifat kolosal dan selalu ada siklus tahunan yang berulang.

Idul Fitri selalu saja diidentikkan dengan mudik dan bertemu keluarga di kampung halaman. Budaya yang sudah mengakar ini memang terlalu sayang untuk dilewatkan bagi beberapa orang. Adapun Natal bagi sebagian umat Kristiani juga bisa dimaknai mudik meski tidak sekolosal yang dilakukan oleh umat Islam. Dari Idul Fitri hingga ke Natal tentu ada banyak cerita, begitu pula sebailknya.

Natal tahun lalu saya lewatkan di Lembaga Pemasyakaratan Cipinang Jakarta Timur. Profesi saya sebagai jurnalis yang mengharuskan saya ke sana. Seperti telah diketahui, setiap tahun Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia selalu mengumumkan pemberian remisi khusus atau pemotongan masa tahanan khusus bagi para narapidana (napi) yang beragama Nasrani. Saat memasuki areal LP Cipinang, barulah terasa adanya dunia lain dari dunia yang selama ini saya alami. Ada rasa keterkurungan dan terpenjara tentu saja. Para napi itu dengan tertib terlihat khidmat mengikuti acara pengumuman pemberian remisi yang dibacakan langsung oleh Menkeh HAM, Yusril Ihza Mahendra.

Ada sebentuk rasa haru bercampur syukur di sana. Remisi bagi para napi adalah keinginan untuk mempercepat harapan yang selalu terpendam. Harapan untuk segera bebas dan menjadi manusia biasa seperti lainnya. Kembali ke tengah kehidupan normal meski harus menyandang stempel sebagai bekas napi. Stempel yang mungkin terasa menyakitkan namun tetap harus disandang sebagai konsekuensi dari sebuah tindak kejahatan pidana maupun perdata.

Tak berbeda jauh ketika Idul Fitri datang menjelang. Remisi khusus dan pengumuman napi yang dibebaskan dipastikan ada. Tahun ini (2003) pun, saya memperingati Idul Fitri di LP. Tepatnya di LP Bulak Kapal Bekasi. Kembali saya harus meliput ritus yang sama namun berbeda tempat dan waktu. Ada perasaan lama yang kembali muncul saat kaki ini melangkah di lantai penjara dan melewati pintu gerbangnya yang dijaga ketat oleh para penjaga LP. Saat itulah, beberapa mata dari balik tembok tebal menatap rombongan wartawan yang melintas. Dalam hati saya sempat bertanya, kira-kira apa yang mereka rasakan ketika melihat rombongan pejabat Depkeh HAM dan wartawan yang lewat. Adakah rasa iri? Atau sekedar ingin berbagi cerita?

Iri yang dimaksud tak lain adalah iri untuk bisa hidup secara normal lagi. Menghirup aroma dunia luar tanpa kekangan tembok penjara yang memang bisa membunuh waktu. Bisa jadi mereka juga ingin bercerita apa saja yang mereka rasakan. Merasakan derita memendam rindu dan kebebasan.

Pengalaman meliput dari penjara ke penjara ini sungguh berkesan. Saya merasa bersyukur bisa merasakan sisi lain kehidupan yang secara sadar atau tidak melekat dalam kehidupan kita. Meski untuk itu saya harus menjual kebahagiaan – istilah dari teman saya – dengan tidak bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga di rumah. Kesedihan yang saya rasakan karena tidak bisa pulang saat Lebaran pasti terlampau sentimentil dengan kesedihan para napi yang harus merayakan Idul Fitri di penjara. Beruntung jika masih ada sanak keluarga yang bersedia menengok napi-napi itu di penjara. Sekedar makan bersama dan bercengkerama sesaat tentu akan menjadi sesuatu yang sangat menghibur.

Kesedihan pasti ada, namun toh hidup tak harus mengaca kepada kesedihan. Begitu pula dengan isak tangis yang tumpah kala mengingat keluarga di rumah tengah berkumpul dan bergembira sementara saya harus berkejaran dengan waktu demi beberapa berita. Ketika itulah, secara tiba-tiba diri ini menangis. Ada yang hilang dalam Lebaran kali ini. Gambaran ibu, ayah dan saudara-saudara saya berkelebat ketika saya memacu kencang sepeda motor menuju gedung Depkeh HAM saat hendak menunaikan shalat Idul Fitri.

Gema takbir, tahlil, dan tahmid di sepanjang jalan yang saya lewati semakin membuat derai air mata saya mengalir. Begitu pun saya tulisan ini diketik. Ada yang hilang dan ada yang dirindukan. Ritus tahunan pulang kampung dan bersembahyang Ied bersama keluarga. Di sini, di Jakarta saya merasa sendirian. Meski shalat Ied ditunaikan berjamaah, namun tak ada seorang pun yang saya kenal di sini. Ada yang hilang, seperti yang dirasakan para napi itu di tahanan. Kehilangan dan kesendirian agaknya harus diakrabi dalam situasi seperti ini. Kehilangan rasa dekat dengan keluarga karena tuntutan kerja serta kesendirian memahami hidup yang beraneka warna.

Tangis itu tak terhenti di situ. Kembali saya menangis saat menyusuri jalanan Jakarta terlihat ada banyak pengemis di beberapa perempatan jalan. Benar kata teman saya, di hari kemenangan ini tak semua merasa menang. Tetap saja ada yang dikalahkan dan digusur di sini. Para kaum pinggiran itu, boleh jadi tak banyak tahu apa itu Idul Fitri apalagi menanyakan maknanya. Bagi mereka lembaran uang seribuan mengkilap yang diberikan oleh pengendara mobil adalah pertanda Idul Fitri telah tiba.

Sempat terpikir, merekalah orang-orang yang lebih suci dibandingkan kita yang sudah mendengarkan khotbah puluhan kali bahwa Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian. Merekalah orang yang suci dari kehendak untuk menguasai sesama. Merekalah orang yang suci dari keinginan untuk mendramatisir suasana Lebaran. Sebab, mereka tetap apa adanya di hari kemenangan ini. Tetap terkalahkan oleh deru zaman dan tetap menjadi obyek tanpa pernah diberi kesempatan menjadi subyek.

Dari orang-orang seperti itulah ada baiknya kita minta didoakan. Doa-doa kedamaian dan bersedia jujur dengan kenyataan. Bahwa, apapun yang telah kita terima harus tetap disyukuri, dihayati, dimaknai sekaligus dipertanyakan. Adakah hak mereka yang kita tahan? Taqabballahu Minna wa Minkum, Syiamana wa Syiamukum, Taqabbal ya Karim. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia terimalah amal puasa kami dengan segala ketidaksempurnaannya dan tolonglah mereka. Selamat Idul Fitri 1424 H.

Di hening Jakarta
Aku terus bertanya
Akan ke mana?
Hingga di mana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salon Kecantikan Terbaik untuk Perempuan: Layanan Gunting, Cuci Rambut, dan Lebih Banyak Lagi

Perempuan berhak merawat rambutnya agar tampil cantik Dalam dunia yang semakin sibuk ini, setiap perempuan berhak untuk merasa cantik dan percaya diri. Salah satu cara untuk mencapai itu adalah dengan merawat rambut di salon kecantikan yang profesional. Di salon kami, kami menawarkan berbagai layanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kecantikan perempuan, termasuk gunting, cuci rambut, blow, coloring, smoothing, dan hair mask. Layanan Unggulan Kami 1. Gunting Rambut Gunting rambut adalah langkah pertama untuk mendapatkan penampilan yang segar. Tim stylist kami yang berpengalaman siap membantu Anda menemukan gaya rambut yang paling sesuai dengan bentuk wajah dan kepribadian Anda. 2. Cuci Rambut Setelah gunting, cuci rambut adalah langkah penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan rambut. Kami menggunakan produk berkualitas tinggi yang dapat memberikan kelembapan dan nutrisi yang dibutuhkan oleh rambut Anda. 3. Blow Layanan blow kami akan memberikan sentuhan akhir yang s...

Fakta Seputar Perang Korea

Semenanjung Korea akhirnya merdeka. Hari itu tanggal 3 Oktober 1945, bangsa Korea menghirup kemerdekaan, setelah dijajah oleh negeri matahari terbit; Jepang. Begitulah, sejarah baru bangsa Korea terbentang dan bergulir. Rasa haru kemerdekaan itu agaknya hanya berumur sesaat. Semenanjung damai yang dulunya bersatu, kembali terkoyak. Tiba-tiba Korea Utara menyerang Seoul dengan tujuan yang jelas; menginvasi Korea Selatan. Tragedi kemanusiaan bertajuk Perang Korea atau yang dikenal pula dengan Korean War digelar. Luka bangsa Korea semasa penjajahan Jepang belumlah usai. Berikutnya, pada tanggal 25 Juni 1950, luka bangsa itu disayatkan lagi oleh saudara sebangsa. Perang, di belahan bumi manapun berlangsung, senantiasa menorehkan luka yang teramat dalam bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dalam realitanya, perang merupakan pilihan akhir yang dilematis yang harus dijalani oleh suatu bangsa, setelah upaya lain terhenti. Tak peduli apapun bentuk perang tersebut dan alasan y...

Telepon Genggam dan Kita

Pernahkah Anda mencoba lepas sehari saja dengan telepon genggam Anda? Jika Anda pernah mencobanya, tentu sangat mudah bagi Anda untuk menjawab pertanyaan saya tadi. Di tengah kesibukan yang makin “menggila” telepon genggam sudah menjadi barang wajib bagi sebagian besar masyarakat.  Sengaja saya beri tanda kutip kata “menggila” tadi untuk menegaskan bahwa banyak orang yang kini tergila-gila memakai telepon genggam. Saking gilanya, mereka tidak bisa lepas barang sejenak dari benda yang satu itu. Itu artinya komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Membeli telepon genggam dan membeli pulsa sudah menjadi rutinitas yang menghiasi keseharian kita.  Kenyataan tentang pentingnya telepon genggam ini menyadarkan saya bahwa seseorang bakal merasa tidak lengkap jika telepon genggamnya tidak bisa berfungsi. Inilah yang saya alami saat berada di Hotel Mambrouk Anyer Banten, Selasa 29 Juli 2008 lalu. Acara liburan mendadak itu menjadikan saya tidak bisa membawa tiga buah charger untu...