Langsung ke konten utama

Resensi Novel Tarian Bumi


Banyak sudah yang mengakui bahwa Bali adalah sumber inspirasi. Terlebih lagi bagi sosok Oka Rusmini. Terlahir sebagai perempuan keturunan Bali yang berdarah bangsawan, Oka fasih meramu alur cerita bernuansa Bali dengan segala detil kehidupan ritualnya.

Lewat novel Tarian Bumi ini, Oka Rusmini menyuguhkan sebuah realita Bali yang dari jauh terkesan eksotik, namun sesungguhnya memendam luka yang teramat dalam bagi para penghuninya. Jalinan kisah dalam novel ini boleh jadi merupakan sebuah warta bagi orang-orang yang mungkin sering terkesima dengan Bali. Berikutnya setelah dihayati lebih jauh lagi, tampaklah ada setumpuk gugatan yang ingin disampaikan oleh Oka.

Lebih jauh lagi, perempuan yang lebih dikenal sebagai penyair ini ingin menyadarkan arti pentingnya pilihan hidup yang dikaitkan dengan guratan takdir Sang Hyang Widhi. Keyakinan, ketabahan, kejujuran, keprasahan, semuanya terangkai menjadi satu dalam novel ini. 

Muara dari semuanya itu adalah sebuah perjuangan seorang insan untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya dengan segala aturan adat yang sangat mengikat. Dalam perjuangan itu ada konflik adat yang cukup pelik, antara kasta Brahmana dan kasta Sudra. Alur cerita dikemas secara flash back oleh pengarang menjadikan jalinan kisahnya semakin menarik untuk dibaca.


Tarian Bumi sebelumnya adalah cerita bersambung yang dimuat di harian umum Republika pada 4 Maret - 8 April 1997. Ada tiga alasan yang diajukan pihak Indonesia Tera untuk menerbitkan novel ini dalam bentuk buku. "Pertama, novel ini ditulis oleh generasi baru yang nat bene penulis 'perempuan'. Kedua, tema yang diangkat adalah posisi kaum perempuan dalam kebudayaan Bali. Ketiga, novel yang berbicara mengenai tema tersebut (kultur Bali) sangat sedikit jumlahnya, apalagi yang ditulis oleh sastrawan perempuannya," tulis penerbit dalam pengantar buku ini.

Kisah Telaga
Jalinan kisah Tarian Bumi diawali oleh seorang tokoh perempuan bernama Telaga. Telaga sesungguhnya adalah perempuan keturunan Brahmana bernama Ida Ayu -sebuah gelar kebangsawanan bagi gadis Bali- Telaga Pidada. Perjuangan panjang dari ibunyalah hingga akhirnya Telaga terlahir sebagai perempuan keturunan Brahmana. 

Sebelumnya, ibu Telaga adalah gadis Sudra bernama Luh Sekar. Kelak aroma hidup Luh Sekar dan neneknya akan membayangi Telaga Pidada dalam mengarungi hidup.

Perjuangan Luh Sekar untuk meraih kasta bukanlah perjuangan yang mudah. Takdir terkadang susah dipahami mengapa harus ada kasta Brahmana dan Sudra dalam hidup. Luh Sekar si penari joged kenamaan desa mencoba mengubahnya. Ia ingin mengubah nasib dengan mengubah derajat kemanusiaannya di mata masyarakat.

"Aku capek miskin, Kenten. Kau harus tahu itu. Tolonglah carikan aku seorang Ida Bagus. Apapun syarat yang harus kubayar, aku siap!" ujar Luh Sekar kepada sahabat karibnya Luh Kenten.

Luh Kenten sempat ragu dengan keinginan Luh Sekar. Sebagai sahabat terdekat, diam-diam Luh Kenten memendam cinta kepada Luh Sekar walaupun sama-sama perempuan. Setiap kali melihat Luh Sekar menari, darah Luh Kenten menggelora. Tanpa sadar, sebuah kenikmatan tersendiri mengalir melalui celah liang keperempuanannya. 

Luh Kenten sadar akan perasaan lain yang diidapnya, tapi ia tak mampu mengatasinya. Keinginan Luh Kenten untuk melihat lebih jauh sisi tubuh Luh Sekar akhirnya terpenuhi. Pada suatu malam, selepas berdoa di pura, Luh Sekar menari dalam keadaan telanjang bulat. Luh Sekar ingin tahu pengakuan dari sahabatnya, apakah ia cantik. Luh Kenten kaget dan tak mampu menatap.

Obsesi Luh Sekar terwujud. Ia disunting oleh seorang lelaki keturuna Brahmana bernama Ida Bagus Pidada. Semuanya tak lepas dari bantuan Luh Kenten. Luh Kenten hanya meminta sebuah imbalan yang aneh. Sebelum upacara perkawianan ia ingin tidur bersama Luh Sekar, dan Luh Sekar menyanggupinya.

Luh Sekar memasuki hidup baru, nama baru harus disandangnya. Jero Kenanga demikianlah orang-orang menyebutnya. Ternyata bukan hal mudah menyesuaikan diri dalam griya -sebutan rumah bagi kalangan Brahmana- di masa-masa awal. 

Luh Sekar tidak mendapatkan cinta dari suaminya. Yang didapatkannya adalah derajat yang berubah dan gaya hidup yang lain dari sebelumnya. Penderitaan dan pandangan miring tentang keluarganya sudah terhapus. Jero Kenanga puas dengan obsesinya yang telah terkabul, walau cinta tak ia rasakan. Ida Bagus Pidada ternyata adalah seorang lelaki penuh nafsu terhadap perempuan.

Kehidupan di griya adalah sebuah hidup yang penuh aturan adat yang mengikat. Dalam hal ini Jero Kenanga harus berkompromi dengan mertuanya, seorang perempuan yang memang keturunan asli bangsawan. Otoritas sang mertua terus berlanjut hingga Telaga lahir. Sang nenek begitu bangga dengan kelahiran cucunya, Ida Ayu Telaga Pidada. 

Sebagai anak yang terlahir dari darah bangsawan, Telaga harus banyak belajar tentang beragam aturan pergaulan hingga ritual keagamaan. Dua sosok perempuan terdekatnya mengajarinya akan makna hidup. Padahal dua sosok ini terlahir dari latar belakang yang berbeda, dari situlah seiring perjalanan kedewasaannya Telaga menghirup dua aroma tadi secara bersamaan.

Selain dari kedua perempuan tadi, Telaga juga banyak belajar dari guru tarinya Luh Kumbren. Luh Kumbren ini adalah simbol idealisme penari Bali tulen yang tak hirau oleh ramainya zaman. Hidupnya hanya untuk menari, karena ia yakin mendapat taksu -semacam kekuatan supranatural- dari Dewa Tari untuk hidup sebagai penari. Banyak hal yang diajarkan oleh Luh Kumbren kepada Telaga.

Kisah hidup Telaga terus terukir hingga menjelang dewasa. Di benaknya mulai tumbuh rasa cinta. Lelaki yang menjadi tambatan hatinya siapa lagi kalau bukan Wayan Sasmitha, seorang lelaki kalangan Sudra namun banyak menyimpan pesona di hati para dayu, para gadis desa. Sebuah keberanian harus ditempuh oleh dua insan yang berbeda kasta ini. 

Di sinilah klimaks novel Oka, Telaga telah memilih jalan kebahagian yang diyakininya bersama Wayan Sasmitha. Mereka menikah secara sembunyi-sembunyi. Telaga telah siap mengganti haluan hidupnya dari perempuan Brahmana menjadi seorang perempuan Sudra, dan di mata mertuanya itu adalah sebuah kegilaan.

Walau derita harus dirasa, Telaga tetaplah seorang Ida Ayu yang memiliki kecantikan sekaligus ketegaran yang luar biasa. Sang kakek pernah bertanya,"Kau tidak bahagia Telaga?" Telaga pun menyahut, "Jangan tanyakan itu, Tulukiang. Kebahagiaan itu sulit digambarkan. Juga tidak bisa diucapkan. Kadang-kadang sesuatu yang tidak bernilai bisa membuat kita tentram, lalu beberapa detik kemudian terenggut lagi. Tiang tidak tahu bagaimana merasakan kebahagiaan itu sendiri. Terlalu mahal."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salon Kecantikan Terbaik untuk Perempuan: Layanan Gunting, Cuci Rambut, dan Lebih Banyak Lagi

Perempuan berhak merawat rambutnya agar tampil cantik Dalam dunia yang semakin sibuk ini, setiap perempuan berhak untuk merasa cantik dan percaya diri. Salah satu cara untuk mencapai itu adalah dengan merawat rambut di salon kecantikan yang profesional. Di salon kami, kami menawarkan berbagai layanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kecantikan perempuan, termasuk gunting, cuci rambut, blow, coloring, smoothing, dan hair mask. Layanan Unggulan Kami 1. Gunting Rambut Gunting rambut adalah langkah pertama untuk mendapatkan penampilan yang segar. Tim stylist kami yang berpengalaman siap membantu Anda menemukan gaya rambut yang paling sesuai dengan bentuk wajah dan kepribadian Anda. 2. Cuci Rambut Setelah gunting, cuci rambut adalah langkah penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan rambut. Kami menggunakan produk berkualitas tinggi yang dapat memberikan kelembapan dan nutrisi yang dibutuhkan oleh rambut Anda. 3. Blow Layanan blow kami akan memberikan sentuhan akhir yang s...

Fakta Seputar Perang Korea

Semenanjung Korea akhirnya merdeka. Hari itu tanggal 3 Oktober 1945, bangsa Korea menghirup kemerdekaan, setelah dijajah oleh negeri matahari terbit; Jepang. Begitulah, sejarah baru bangsa Korea terbentang dan bergulir. Rasa haru kemerdekaan itu agaknya hanya berumur sesaat. Semenanjung damai yang dulunya bersatu, kembali terkoyak. Tiba-tiba Korea Utara menyerang Seoul dengan tujuan yang jelas; menginvasi Korea Selatan. Tragedi kemanusiaan bertajuk Perang Korea atau yang dikenal pula dengan Korean War digelar. Luka bangsa Korea semasa penjajahan Jepang belumlah usai. Berikutnya, pada tanggal 25 Juni 1950, luka bangsa itu disayatkan lagi oleh saudara sebangsa. Perang, di belahan bumi manapun berlangsung, senantiasa menorehkan luka yang teramat dalam bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dalam realitanya, perang merupakan pilihan akhir yang dilematis yang harus dijalani oleh suatu bangsa, setelah upaya lain terhenti. Tak peduli apapun bentuk perang tersebut dan alasan y...

Telepon Genggam dan Kita

Pernahkah Anda mencoba lepas sehari saja dengan telepon genggam Anda? Jika Anda pernah mencobanya, tentu sangat mudah bagi Anda untuk menjawab pertanyaan saya tadi. Di tengah kesibukan yang makin “menggila” telepon genggam sudah menjadi barang wajib bagi sebagian besar masyarakat.  Sengaja saya beri tanda kutip kata “menggila” tadi untuk menegaskan bahwa banyak orang yang kini tergila-gila memakai telepon genggam. Saking gilanya, mereka tidak bisa lepas barang sejenak dari benda yang satu itu. Itu artinya komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Membeli telepon genggam dan membeli pulsa sudah menjadi rutinitas yang menghiasi keseharian kita.  Kenyataan tentang pentingnya telepon genggam ini menyadarkan saya bahwa seseorang bakal merasa tidak lengkap jika telepon genggamnya tidak bisa berfungsi. Inilah yang saya alami saat berada di Hotel Mambrouk Anyer Banten, Selasa 29 Juli 2008 lalu. Acara liburan mendadak itu menjadikan saya tidak bisa membawa tiga buah charger untu...